Pages

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 16 Januari 2013

Bunga Tropis



Semarak Kembang Tropis!
http://www.kebonkembang.com/wp-content/uploads/2012/11/semarak-kembang-tropis1-150x150.jpgHari itu hangatnya sinar sang surya bagai hanya menyelimuti kediaman Anastasia Ferwidyasari di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Itu karena kehadiran sebuah rangkaian laksana matahari di salah satu sudut teras. “Rangkaian ini saya beri nama Shiny Day,” kata Anastasia sambil menunjuk rangkaian setinggi 1 meter itu.
Sisy, sapaannya, tak salah menamai seperti itu. Rangkaian itu tersusun dari kuntum-kuntum bunga kalatea Calathea crotalifera berwarna kuning lembut dan kuning kejinggaan, jengger ayam Celosia cristata merah, daun palem waregu Raphis excelsa yang hijau tua, bunga matahari Helianthus annuus nan kuning cerah, pisang-pisangan Heliconia wagneriana perpaduan warna kuning cerah semburat merah, serta daun hanjuang Cordyline sp.

Bunga matahari yang tengah mekar sempurna menjadi titik pusat perhatian dengan kuntum-kuntum jenger ayam, bunga kalatea, dan daun palem waregu di sekelilingnya. Padu-padan warna bahan-bahan itu melahirkan rangkaian bunga dengan nuansa warna laksana sinar sang surya saat beranjak dari peraduan di pagi hari. Sisy memang terinspirasi oleh bentuk dan warna hyang rawi-matahari dalam bahasa Jawa Kuno-dalam membuat rangkaian “Shiny Day”.
Gagah maskulin
Sisy hanya butuh waktu 30 menit untuk membuat rangkaian bunga itu. Mula-mula wanita berdarah campuran Batak-Jawa itu mengambil tampah sebagai dasar rangkaian. Lalu mengikat floral foam tepat di bagian tengah tampah dan mengikatkannya ke puncak batang besi berbentuk huruf T terbalik. Besi berfungsi sebagai penopang dan penyeimbang rangkaian. Setelah itu barulah wanita 28 tahun itu mengambil helaian daun palem waregu untuk menutupi rangka rangkaian. Selanjutnya ia mengaitkan kawat ram ke dua ujung bunga kalatea, lalu menancapkannya bersama bunga celosia. Sisy lalu meletakkan bunga matahari di bagian tengah rangkaian.
Sebagai pemanis Sisy menancapkan gulungan daun hanjuang, terung susu Solanum mammosum, manggar kelapa Cocos nucifera, bunga gerbera Gerbera sp, dan batang honje Etlingera hemisphaerica di dasar rangkaian. “Hampir seluruh tanaman hias yang digunakan dalam rangkaian bertema ‘Shiny Day’ merupakan bunga-bunga tanaman tropis, kecuali bunga gerbera,” ujar Sisy.
Menurut Peny Zulandari, perangkai bunga di Jakarta Selatan, rangkaian bunga tropis tidak kalah elok daripada rangkaian bunga subtropis seperti mawar, lili, dan lisianthus. “Bunga subtropis memang terlihat semarak karena berwarna cerah sehingga lebih menarik. Sedangkan bunga tropis lebih banyak didominasi warna tanah, seperti merah, kuning, coklat, dan hijau,” kata Peny.
Namun, tekstur bunga tropis lebih bervariasi: kasar, tajam, bergerigi, berbulu, bergelombang, halus, atau campuran. “Variasi tekstur itu dapat menonjolkan kesan kuat, gagah, dan maskulin. Beda dengan bunga subtropis yang didominasi oleh tekstur halus sehingga terkesan ayu, lembut, dan gemulai,” ujar Peny.
Keragaman tekstur rangkaian bunga tropis yang berkesan maskulin itu terlihat pada rangkaian penghias meja altar karya Peny. Ia mengambil hampir semua kekayaan tekstur tanaman tropis lantas merangkainya menjadi kebun bunga di bawah meja altar. Ada materi bertekstur halus (jahe, daun andong, terung susu), runcing (heliconia), bergelombang (jengger ayam merah), bergerigi (manggar kelapa), dan tajam (nanas-nanasan Ananas bracteatus). Agar terlihat dinamis, wanita berusia 33 tahun itu memberikan irama pada rangkaian dengan menata daun dan bunga potong tinggi rendah seperti gelombang air.
Bila ingin membuat rangkaian yang berkesan ayu, tekstur bunga tropis yang berkarakter kuat itu dapat dilembutkan dengan teknik pengawatan. Sisy misalnya menggunakan kawat untuk membuat bunga kalatea yang keras dan kaku menjadi berbentuk setengah lingkaran. Cara lain dengan menyisipkan dedaunan. Warna hijau dedaunan menjadi jembatan antara materi bertekstur kuat dengan materi bertekstur halus. Penambahan bunga subtropis sah-sah saja supaya rangkaian tidak didominasi warna-warna tanah.
Lebih awet
Lihatlah rangkaian dengan materi utama heliconia kreasi Lucia Raras, perangkai bunga di Jakarta Selatan. Wanita asal Yogyakarta itu meletakkan Heliconia wagneriana berwarna kuning cerah semburat merah, Heliconia carribea yang berwarna merah muda semburat kuning, dan Heliconia rostrata berwarna merah tua sebagai pusat rangkaian. Heliconia cocok dibuat rangkaian berprinsip mass-line arrangement yakni teknik merangkai bunga dengan memadukan materi yang memberikan kesan tegak lurus atau lengkung dan beberapa materi yang berkesan padat.
Wagneriana dan carribea memberikan kesan garis tegak lurus, sedangkan rostrata untuk kesan lengkung dan jatuh alami. Di bagian bawah rangkaian Raras meletakkan bunga matahari, manggar kelapa, daun hanjuang, celosia, dan gerbera untuk memberikan kesan padat tapi halus.
Rangkaian bunga berbahan tanaman hias tropis yang tak kalah cantik juga tersaji dalam karya Resty Budiman, wakil ketua Dewan Perwakilan Cabang Ikatan Perangkai Bunga Indonesia di Jakarta Selatan. Resty menghadirkan pesona eksotisme hutan hujan tropis dengan menyusun bunga costus jingga, heliconia, anggrek, honje, daun pakis, dracaena song of jamaica, kadaka, palem waregu, monstera, dan daun hanjuang di pot plastik berdiameter 30 cm. Selamat datang bunga tropis.

0 komentar:

Poskan Komentar

iklan